Hoax Kesehatan dan Politik

Gambar Ilustrasi

Tahun 2019 bisa disebut sebagai tahun Hoax. Berita, peristiwa, pernyataan, kesaksian bohong, misleading dan miskonsepsi tumbuh subur mencapai kondisi yang mengkhawatirkan.

Adagium kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran hampir terbukti.

Tingginya angka hoax ditandai dengan saling lapor. Penegak hukum pun dibuat sibuk. Kantor pun ramai karena pelapor biasanya datang ke kantor penegak hukum sambil membawa rombongan sirkus. Persis sama ketika pasangan calon hendak mendaftar ke lembaga penyelenggara.

Saling serang dengan fitnah, kebohongan, misleading dan miskonsepsi kemudian mengerucut. Dan saking seriusnya mengolah Hoax kelompok yang tak masuk dalam group saling serang kerap kali juga terpengaruh.

Akibatnya kita tak tahu lagi siapa yang menjadi wasit. Pertandingan Hoax adalah pertandingan liar. Penegak hukum pun sesekali juga ikut terpeleset.
.
Di media sosial mereka yang turut menyebar Hoax juga dengan enteng tanpa rasa tanggungjawab mengatakan “Sekedar ikut berbagi”.

Hoax politik mungkin memang memuakkan. Namun usai perhelatan pemilu dengan sendiri Hoax ikut mereda. Apalagi ketika yang berkelahi kemudian melakukan rekonsiliasi.

Ingatan yang memuakkan mungkin masih tersisa. Tapi kita bisa memaklumi karena politik memang dekat dengan Hoax.

Dalam politik salah satu Hoax yang dengan mudah kita maklumi adalah janji politik.

Komunikasi politik terutama dalam arena kontestasi memang ditujukan agar masyarakat tak berpikir rasional. Yang dituju adalah masyarakat percaya tanpa pertimbangan yang dalam. Keputusan politik dipantik dengan alasan sektarian atau primordial.

Maka jika ada yang mengatakan bahwa pemilih kita sudah cerdas dan rasional, kita harus mencurigai pernyataan itu sebagai Hoax.

-000-

Seorang teman yang adalah praktisi kesehatan mengeluhkan betapa hoax di bidang kesehatan tidak menjadi perhatian.

Menurutnya kita terlalu memberi perhatian pada hoax di bidang politik, ekonomi, SARA. Isu yang secara otomatis kerap muncul menjelang kontestasi politik.

Berita Terkait :  Kementerian ATR/BPN Percepat Pelaksanaan Reforma Agraria

Meski menimbulkan kegaduhan, pada satu titik bisa dikatakan bahwa sebagian masyarakat sudah imun (Self Defens) pada isu itu.

Kembali ke soal hoax kesehatan meski tak menimbulkan kegaduhan semeriah hoax politik, dampaknya justru lebih berbahaya.

Dari perkembangan penularan COVID 19 apa yang ditenggarai oleh teman saya itu kemudian menjadi nyata.

Hoax kesehatan dibanding dengan hoax politik menjadi lebih dramatis. Karena politik tidak akan menyatukan kepentingan orang sedunia, selalu ada pro kontra dan menimbulkan perkubuan.

Tapi kesehatan tidak. Kebutuhan orang sedunia soal kesehatan sama, ingin sama sama sehat

Sejak mulai terjadi penularan di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok kegemparan segera dimulai.

Beredar video yang segera viral yang menunjukkan orang bertumbangan.

Disebut sebagai virus Wuhan seolah-olah mau melokalisir virus itu disana. Virus dianggap berbiak disana karena gaya hidup masyarakatnya yang doyan menyantap binatang liar dan tidak dimasak dengan benar.

Berbekal kebencian atau rasa kurang senang terhadap tingkah dan polah politik maupun ekonomi Tiongkok pada masa sebelumnya. Banyak yang menyakini virus itu dikirim, tercipta atau tersebar hanya untuk menyerang orang Tiongkok.

Padahal belum pernah sekalipun ada virus yang kenal atau mengenali siapa yang harus diserang. Virus bukanlah mahkluk yang paham tebang pilih dalam menentukan sasaran. Virus bukanlah organisasi, ormas atau partai yang punya preferensi awal siapa yang dianggap lawan dan siapa yang diaku sebagai kawan.

Apa yang terjadi pada COVID 19 mengulang kejadian pada penyakit -penyakit sebelumnya.

Penyakit yang dianggap kutukan. Penyakit yang dianggap hanya menyasar kelompok tertentu. Contoh yang masih belum jauh dari ingatan kita adalah HIV/AIDS.

Penyakit (kumpulan syndroma) awalnya hanya dianggap menyerang kaum homoseksual, kemudian pekerja seks dan orang-orang yang perilaku seksualnya tidak benar. Ukuran resiko terhadap HIV/AIDS adalah moral.

Berita Terkait :  Lambang yang Tak Menghadirkan

Dalam kondisi seperti itu justru kemudian berkembang pesat. Dan ketika kesadaran bahwa HIV/AIDS bisa mengenai siapa saja yang berperilaku resiko terhadap penularannya maka wabah atau penularan HIV/AIDS bisa terus ditekan.

-000-

Hoax soal COVID 19 semakin merajalela ketika banyak negara di luar Tiongkok juga diserang dan telah punya penderita yang positif.

Sampai sebulan lebih COVID 19 belum ada orang Indonesia atau orang luar Indonesia yang berada di Indonesia terdeteksi positif.

Realitas itu membuat Indonesia amat percaya diri. Percaya bahwa virus tak mampu menembus Indonesia karena beberapa alasan.

Pertama karena alasan religius. Bangsa kita rajin berdoa sehingga dihindarkan Tuhan dari malapetaka.

Kedua karena iklim. Panas yang berlimpah di negeri ini membuat virus mati sebelum menginfeksi.

Ketiga, tentu saja banyak yang tak percaya kalau belum ada penderita di Indonesia. Namun yang tak percaya bukan mendorong pemerintah untuk meningkatkan mitigasi melainkan justru menebar kabar bahwa ratusan orang telah tertular. Kabar yang sumbernya tidak jelas.

Keempat, seolah berbasis pada ilmu pengetahuan kemudian ada yang mengabarkan keyakinan bahwa kita kebal rerhadap virus karena terbiasa mengkonsumsi rempah. Entah untuk bumbu masakan maupun untuk jamu jamuan.

Pemerintah pun akhirnya percaya diri. Dan mencoba mengambil peluang (aji mumpung) untuk menjual potensi pariwisata.

Namun belum juga rencana dilaksanakan ternyata ditemukan warga Indonesia yang positif terinfeksi.

Banyak yang bersorak gembira waktu Presiden secara resmi mengumumkan adanya penderita COVID 19.

Gembira karena kekhawatiran mereka terbukti. Gembira karena ada kesempatan untuk menyerang habis-habisan mereka yang kemarin membantah soal resiko serangan COVID 19 di Indonesia.

Tapi ada juga yang gembira karena menganggap Corona adalah gurauan. Virus itu bahkan dijadikan lagu. Corona diartikan sebagai Comunitas Rondo Merana.

Berita Terkait :  Gila-Gilaan

Mungkin hari-hari kedepan akan segera menyusul pengumuman pertambahan jumlah penderita.

Juga berita tentang kepanikan yang tak perlu. Seperti memborong makanan, masker dan lain sebagainya yang justru mendongkrak harga yang tak seharusnya.

Dan sialnya dalam soal kesehatan perilaku pencarian informasi dan pengobatan masyarakat kita tak banyak berubah dalam waktu 30 tahun terakhir ini.

Informasi terkait penyakit dan pengobatan pertama selalu dicari dari teman atau keluarga dekat. Kesimpulan dan obat lalu dibuat atau dibeli sendiri, kalau tak manjur lalu mencari informasi obat alternatif. Baru kalau sudah parah terpaksa pergi ke dokter atau rumah sakit.

Hafal dengan kebiasaan ini maka para spekulan akan mempraktekkan ‘Aji Mumpung’, mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Masyarakat panik akan mudah disetir untuk melakukan hal-hal yang tak perlu. Salah satunya adalah membeli keperluan yang tidak perlu berlebihan.

Dan jika segala sesuatu menjadi langka. Maka keran import atas barang tertentu akan dibuka.

Buat para pemegang kuota import semakin lama paniknya semakin bagus. Karena kue import terutama bahan bahan kebutuhan pokok selalu menguntungkan.

COVID 19 sejauh ini belum menunjukkan diri sebagai mesin pembunuh yang kejam. Bahwa menular dengan cepat memang iya, tapi membunuh dengan efektif tidak.

Maka virus pembunuh yang sebenarnya adalah mereka yang menumpang cari untung dan cari kesempatan karena ekpansi COVID 19 yang belum berhasil dihentikan.

Maka benarlah yang dikatakan para tetua dulu bahwa musuh hanya (virus) yang paling berbahaya adalah musuh (virus) dalam selimut.

YSH ~

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini